TUGAS INDIVIDU
“PENTINGNYA IMTAQ DAN IPTEK”
Disusun
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pendidikan
Agama Islam
Dosen
Pengampu: Dr. Nurhadi,
S.Pd., M.Pd. I
Disusun
Oleh :
Nama :
Priscillia Putri Aringgit
NIM : 13120157
Kelas : 1D
Program
Studi :
PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
IKIP
PGRI SEMARANG
2013/2014
Dengan nama Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat membuat serta
penyusunan materi Pendidikan Agama Islam tentang “Pentingnya IMTAQ dan IPTEK”
ini dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga dapat selesai tepat waktu.
Didalam makalah ini, penulis
ingin menyampaikan sedikit tentang bagaimana menyelaraskan perkembangan IPTEK
jaman sekarang dengan IMTAQ dalam pandangan islam. Sehingga hidup kita yang
serba modern ini tidak melewati batasan – batasan dari ajaran islam dalam
penggunaannya.
Tak
lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :
·
Allah SWT yang telah meridhoi pembuatan makalah ini,
·
dosen Pendidikan Agama Islam,
·
orang tua yang membantu secara materiil maupun non materiil,
·
semua pihak yang telah mambantu terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari masih banyak
terdapat kekurangan dalam makalah ini. Kritik dan saran, penulis terima dengan
lapang dada untuk meningkatkan mutu dan isi dari makalah ini. Harapan
penulis semoga makalah ini dapat memberi bekal pengetahuan dan manfaat bagi
kita semua.
Terima kasih.
Semarang, September 2013
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
..........................................................................................................1
KATA PENGANTAR
.......................................................................................................2
DAFTAR ISI
......................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
..................................................................................................4
A. Latar Belakang
Masalah .........................................................................................4
B. Rumusan
Masalah ...................................................................................................5
C. Tujuan
Penulisan .....................................................................................................5
D. Manfaat
Penulisan ...................................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................7
1.
Pengertian IMTAQ ..................................................................................................7
2. Pengertian
IPTEK ....................................................................................................9
3. Pandangan
Islam Terhadap IMTAQ dan IPTEK
....................................................11
4. Peranan
IMTAQ dan IPTEK ..................................................................................14
5. Penyelarasan
IMTAQ dan IPTEK ..........................................................................14
6. Tanggung
Jawab Ilmuwan Terhadap Alam dan Lingkungan .................................17
7. Keutamaan
Orang Beriman dan Berilmu ...............................................................18
BAB V PENUTUP
............................................................................................................21
A.
Kesimpulan ............................................................................................................21
B. Saran
.......................................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA
........................................................................................................22
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan
Keimanan dan Ketaqwaan (Imtaq) Terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan
amanat UUD 1945 (amandemen) Pasal 31 ayat (3) yaitu ”Tujuan Pendidikan
Nasional meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa” dan secara tegas dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 bahwa peningkatan
Imtaq merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, yaitu ”mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak
mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan warga warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Dalam pengertian ini yang menjadi core (inti)
tujuan pendidikan nasional adalah manusia yang beriman dan bertaqwa.
Dan
tentunya jika hanya mempunyai IMTAQ tetapi tertinggal dari IPTEK maka umat
islam akan tergantung kepada bangsa lain. Islam akan tersingkirkan dari persaingan
global. Sebaliknya bila hanya unggul secara IPTEK tapi kurangnya IMTAQ maka
umat islam hanya akan menjadi bangsa yang arogan. Suatu peradaban yang hanya
mengejar kesenangan dunia dan hidup secara hedonistik. Hedonistik
merupakan pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan
menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin
menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Paham hedonistik ini
menjelaskan apa saja yang dapat memuaskan keinginan manusia
dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan itu sendiri dengan berbagai
cara.
Selain karena adanya problem
dikotomi antara ilmu-ilmu umum (sains) dan ilmu-ilmu agama (Islam), juga
disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa pengembangan IPTEK dalam sistem
pendidikan kita tampaknya berjalan sendiri, tanpa dukungan asas IMTAQ yang
kuat, sehingga dikhawatirkan pengembangan dan kemajuan IPTEK tidak memiliki
nilai tambah dan tidak memberikan manfaat yang cukup berarti bagi kemajuan umat
dan bangsa dalam arti yang seluas-luasnya.
Kekhawatiran ini, cukup
beralasan, karena sejauh ini sistem pendidikan kita tidak cukup mampu
menghasilkan manusia Indonesia yang IMTAQ kepada Allah SWT sebagaimana yang
diharapkan. Berbagai masalah sosial dan tindak kejahatan sering terjadi dan
banyak dilakukan justru oleh orang-orang yang secara akademik sangat
terpelajar, seperti contohnya memakai narkoba, banyaknya tawuran antar pelajar,
pornografi, pornoaksi dan lain-lain, yang kesemuanya itu berpotensi untuk
menimbulkan kerawanan sosial berupa nilai moral dan terjunnya etika-etika
ketimuran atau lebih khusus lagi merosotnya akhlakul karimah. Ini berarti,
aspek pendidikan turut menyumbang dan memberikan saham bagi kebangkrutan bangsa
yang kita rasakan sekarang. Kenyataan ini menjadi salah satu catatan mengenai
raport merah pendidikan nasional kita.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tesebut di atas, makalah ini secara khusus akan membahas
permasalahan:
1.
Apa pengertian dari IMTAQ ?
2.
Apa pengertian dari IPTEK ?
3.
Bagaimana pandangan islam tentang IMTAQ dan IPTEK ?
4.
Bagaimana peranan IMTAQ dan IPTEK ?
5.
Apa saja alasan integrasi
atau menyelarasan antara IMTAQ dan IPTEK ?
6. Apa hubungannya antara ilmuwan dengan alam dan lingkungan ?
7. Apa saja kewajibaan orang beriman dan berilmu ?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah tesebut di atas, makalah ini secara
khusus memiliki tujuan sebagai berikut:
- Untuk mengetahui pengertian dari IMTAQ.
- Untuk mengetahui pengertian dari IPTEK.
- Untuk mengetahui pandangan islam tentang IMTAQ dan IPTEK.
- Untuk mengetahui peranan IMTAQ dan IPTEK.
- Untuk mengetahui integrasi atau antara IMTAQ dan IPTEK.
- Untuk mengetahui hubungan antara seorang ilmuwan dengan alam dan lingkungan.
- Untuk mengetahui kewajiban – kewajiban sebagai orang beriman dan sebagai orang berilmu.
D. Manfaat Penulisan
ü Manfaat bagi
penulis
·
Mendapatkan ilmu pengetahuan baru.
·
Dapat mengkaji materi mata kuliah pendidikan agama
islam.
·
Mendapat kesempatan mempertahankan pendapat, ide,
wawasan dan gagasan.
ü Manfaat bagi
mahasiswa dan masyarakat
·
Dapat lebih memahami dan menerapkan konsep dasar suatu
pengetahuan tentang IMTAQ dan IPTEK.
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Pengertian IMTAQ
Kepanjangan
IMTAQ adalah Iman dan Taqwa. Iman dari bahasa Arab
yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati,
diucapkan
dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Jadi, seseorang
dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi
ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang
keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal
perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang
sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang
utuh dan tidak dapat dipisahkan. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia Mengemukakan Taqwa
/ takwa dalam bahasa Arab berarti
memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya, tidak cukup diartikan dengan takut saja. Adapun arti lain dari
taqwa adalah:
1. Melaksanakan segala perintah Allah.
2. Menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah
(haram).
3. Ridho (menerima dan ikhlas) dengan hukum-hukum
dan ketentuan Allah.
Taqwa berasal dari kata
waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. "memelihara diri dalam
menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk allah" Adapun dari asal bahasa
arab quraish taqwa lebih dekat dengan kata waqa Waqa bermakna melindungi
sesuatu, memelihara dan melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan
merugikan. Itulah maka, ketika seekor kuda melakukan langkahnya dengan sangat
hati-hati, baik karena tidak adanya tapal kuda, atau karena adanya luka-luka
atau adanya rasa sakit atau tanahnya yang sangat kasar, orang-orang Arab biasa
mengatakan Waqal Farso Minul Hafa (Taj). Dari kata waqa ini taqwa bisa
di artikan berusaha memelihara dari ketentuan allah dan melindungi diri dari
dosa/larangan allah. bisa juga diartikan berhati hati dalam menjalani hidup
sesuai petunjuk allah.
Prinsip dasar yang ada dalam imtaq yaitu unsur - unsur dasar yang dapat digunakan sebagai
pedoman penyusunan target sasaran hasil bentuk perilaku yang dimiliki
oleh dunia pendidikan. Menurut Durkheim unsur - unsur dasar terdiri dari :
disiplin, kebutuhan untuk mampu mengontrol, mengendalikan, mengekang diri
terhadap keinginan - keinginan yang melampaui batas, keterikatan dengan
kelompok masyarakat yang ada dalam suatu komunitas kehidupan, dan otonomi dalam
makna menyangkut keputusan pribadi dengan mengetahui dan memahami sepenuhnya
konsekuensi - konsekuensi dari tindakan atau perilaku yang diperbuat.
Imtaq merupakan
wahana yang akan mengarahkan dunia pendidikan menuju target yang dituju, yakni
menciptakan generasi beriman dan berilmu yang mampu bersaing secara baik dan
beriman kepada Allah SWT. Imtaq akan menjadi peneguh karakter penerus bangsa
guna menjaga nilai moral bangsa ditengah Era-globalisasi.
Agama Islam yang mengajarkan umatnya untuk
berdisiplin, merupakan salah satu unsur imtaq yang tercantum didalamnya.
Pengertian berdisiplin itu sendiri merupakan disiplin jasmani maupun rohani. Dengan
keseimbangan disiplin antara keduanya akan mampu menumbuhkan penerus bangsa
yang berdisiplin dalam setiap sektor dalam hidupnya.
Disiplin yang tinggi dan seimbang dapat menjadikan kita
mampu mengontrol segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Kemampuan tersebut
akan membawa kita menuju ke kepribadian yang bijaksana. Kebijaksanaan itulah
yang akan membuat kita mampu mengendalikan diri dan lingkungannya, sebagai life
skill yang kelak akan berguna saat kita harus terjun ke masyarakat.
Hal - hal tersebut akan menuntun kita kearah
kemandirian yang bertaqwa kepada Allah SWT. Kita dapat mengekang diri terhadap
keinginan - keinginan yang melampaui batas, hal inilah yang menjadikan kemajuan
dunia pendidikan kita, yang merupakan negara Pancasila yang beragama dengan
mayoritas beragama Islam. Selain itu, kita juga mampu berketerikatan dengan kelompok
masyarakat yang ada dalam suatu komunitas kehidupan, dan otonomi dalam makna
menyangkut keputusan pribadi dengan mengetahui dan memahami sepenuhnya
konsekuensi - konsekuensi dari tindakan atau perilaku yang diperbuat.
2. Pengertian IPTEK
Kepanjangan IPTEK adalah Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Ilmu adalah pengetahuan yang sudah
diklasifikasi, diorganisasi, disistimatisasi, dan diinterpretasi, menghasilkan
kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya, dan dapat diuji ulang secara
ilmiah. Secara etimologis, kata ilmu berarti kejelasan, karena itu segala yang
terbrntuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai
bentuknya berulang 854 kali dalam Al-Qur’an. Dari sudut pandang fisafat, ilmu
lebih khusus dibandingkan dengan pengetahuan.
Istilah teknologi merupakan produk ilmu
pengetahuan. Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsur
budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada
dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan netral. Dalam
situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak
dan potensi kekuasaan. Disinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dengan
teknologi. Adapun seni termasuk bagian dari budaya, berbagai hasil ungkapan
akal budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan hasil ekspresi jiwa
yang berkembang menjadi bagian dari budaya manusia.
Teknologi dapat membawa dampak positif
berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa
dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan
lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi
dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan
atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri.
Prinsip iptek itu sendiri yakni : konsep dasar sains,
dan konsep dasar teknologi. Konsep dasar sains mencakup unsur -unsur
fundamental minimal : taraf dan keadaan ilmu pengetahuan yang sekarang dan
perkembangannya, dan fungsi ilmu pengetahuan. Konsep dasar teknologi mencakup
unsur - unsur dasar minimal : makna teknologi, taraf keadaan, jenis-jenis
teknologi yang ada dan pemanfaatannya pada saat ini, dan aktivitas dinamis
berlandaskan konsep dinamis “creativity” secara konkrit menciptakan atau
memodifikasi teknologi sederhana yang dapat ditemukan dan diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Kawasan bahan ajar kedua tipe tersebut minimal mencakup
pengembangan domain kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Sejarah internet Indonesia
dimulai pada awal tahun 1990-an. Saat itu jaringan internet di Indonesia lebih
dikenal sebagi paguyuban network, dimana semangat kerjasama, kekeluargaan &
gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Mungkin berbeda
dengan suasana Internet Indonesia pada perkembangannya kemudian yang terasa
lebih komersial dan individual disebagian aktivitasnya, terutama yang
melibatkan perdagangan Internet. Sejak 1988, ada pengguna awal Internet di
Indonesia yang memanfaatkan CIX (Inggris) dan Compuserve (AS) untuk mengakses
internet.
Iptek didukung oleh dua faktor dari pelaku iptek
tersebut, yakni IQ dan EQ. IQ (Intelligence Quastion) adalah tingkat kecerdasan
dalam menangkap sesuatu. Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara
metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk
suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap
seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat
dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah
dan ibu disamping faktor gizi makanan yang cukup.
IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah
sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti
penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan kita belajar dan memahami
berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar
pada seseorang, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah,
sakit-sakitan) dan gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seorang anak
adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan
bahasa si anak dengan IQ nya. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi masuk
sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.
Kesuksesan yang ingin dicapai dibutuhkan bukan hanya “cognitive
intelligence” tetapi juga “emotional intellegence”. Emotional
intellegence atau disingkat EQ adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara
selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh
yang manusiawi(Cooper dan Sawaf, 1998). Ataupun kemampuan untuk untuk
mengendalikan hal-hal negatif seperti kemarahan dan keragu-raguan atau rasa
kurang percaya diri dan juga kemampuan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal
positif seperti rasa percaya diri dan keharmonisan dengan orang-orang
disekeliling.
Perlunya emotional intelligence dalam dunia kerja
merupakan suatu bidang yag seringkali dianggap lebih banyak menggunakan “cara
berpikir analitis” daripada melibatkan perasaan atau emosi. Menurutnya setiap
orang dalam perusahaan atau organisasi dituntut untuk memiliki EQ yang tinggi.
Selain itu IQ bersifat relatif tetap, sementara EQ dapat berubah sehingga bisa
dibentuk dan dipelajari. Sedangkan persentase ketergantungan IQ terhadap
keberhasilan seseorang (siswa) hanyalah 20%. Sedangkan 80% yang lainnya lebih
didominasi oleh faktor yang lain.
3. Pandangan Islam Terhadap IMTAQ dan IPTEK
Negara
- negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah
negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi
dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi.
Karena nyatanya umat muslim kita itu banyak yang masih bodoh dan lemah, maka
mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya. Beberapa diantara mereka
kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara - negara
Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis
(’matre’) dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi
informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis - krisis sosial-moral
dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim.
Kenyataan
memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah
dan peradaban dan Iptek Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di
negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin
kualitas sumber daya manusianya (pendidikan dan Ipteknya). Ketidakadilan global
ini terlihat dari fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20 %
penduduk kaya di negara-negara maju. Sementara 80% penduduk dunia di
negara-negara miskin hanya memperebutkan sisa makanan pesta pora bangsa - bangsa
negara maju.
Akhlak
yang baik muncul dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sumber segala
Kebaikan, Keindahan dan Kemuliaan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT
hanya akan muncul bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan
terhadap Allah SWT dan terhadap alam semesta sebagai tajaliyat (manifestasi)
sifat-sifat Maha Mulia, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Islam
sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan
mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan
segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda
dengan pandangan dunia barat yang melandasi pengembangan ipteknya hanya untuk
kepentingan duniawi yang ‘matre’ dan sekular, maka islam mementingkan
pengembangan dan penguasaan iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim
kepada Allah SWT dan dan mengemban amanat Khalifatullah (wakil/mandataris
Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat
bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Alamin). Seperti dalam ayat berikut ini:
|
|
|
|
Artinya : “Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal, (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha
Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imron [3] :
190-191).
Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama
Islam yang menentang fakta - fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah
pemahaman dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ’ilmu
pengetahuan’ yang menentang prinsip - prinsip pokok ajaran agama Islam maka
yang salah adalah tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekular yang
berada di balik wajah ilmu pengetahuan modern tersebut.
Islam sangat
memotivasi umatnya untuk memfungsikan akal dan rasa secara seimbang.
Sesungguhnya tidak ada dikotomi iman dan ilmu pengetahuan dalam Islam karena
keduanya merupakan dua materi yang saling mendukung satu sama lain. Menuntut
dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam Islam merupakan kewajiban bagi setiap
muslim, dan muslim yang beriman akan menjalankan kewajiban yang diperintahkan
Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah antara iman dan ilmu tidak
dapat dipisahkan dalam Islam. Bahkan perintah Allah SWT yang pertama kepada
umat Islam melalui rasul-Nya adalah perintah untuk menuntut ilmu. Firman-Nya
dalam Al-Quran
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي •خَلَقَخَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ•اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ•الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ•عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya : “(1) Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (2) Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (4)
Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, (5) Dia mengajar kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S Al-Alaq: 1-5)
Ada beberapa
kemungkinan hubungan antara imtaq dan iptek:
(a) berseberangan atau
bertentangan,
(b) bertentangan tapi
dapat hidup berdampingan secara damai,
(c) tidak bertentangan
satu sama lain,
(d)
saling mendukung satu sama lain, agama mendasari pengembangan imtaq dan iptek
mendasari penghayatan agama.
Pola hubungan pertama adalah bertolak belakang
antara iptek dan imtaq. Pada pola ini, apa yang dianggap benar oleh agama
bertentangan dengan iptek, begitupun sebaliknya. Pola hubungan ini seperti yang
terjadi pada masa Galileo Galilei. Ketika ia berpendapat bahwa bumi mengitari
matahari, gereja meyakini bahwa mataharilah yang mengitari bumi, dan hal ini
menyebabkan Galileo mendapat hukuman berat karena dianggap menyesatkan. Akan
tetapi Islam tidak demikian halnya. Tertulis dalam Al-Quran teori yang telah
dikemukakan oleh Galileo, dan tidak bertentangan sama sekali.
Pola
hubungan kedua adalah bertentangan tetapi tidak saling menghakimi dan dapat
berdampingan. Pola ini merupakan pengembangan dari pola pertama. Biasa terjadi
pada masyarakat yang memisahkan antara agama dan iptek. Menurut mereka, doktrin
agama tidak ada sangkutannya dengan iptek. Sementara dalam Islam, dasar dari
iptek adalah iman yang berkaitan langsung dengan doktrin agama. Agama sangat
mendukung pengembangan iptek.
Pada pola hubungan ketiga adalah
pola hubungan netral. Agama tidak menentang iptek juga tidak mendukung
pengembangannya. Agama berada di wilayah dan jalurnya tersendiri, begitu pula
dengan iptek.
4. Peranan IMTAQ dan IPTEK
Kemajuan
teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini,
karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi
kehidupan manusia, memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam
melakukan aktivitas
manusia.
Khusus
dalam bidang teknologi, masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang telah
dihasilkan dalam dekade terakhir ini.Contoh termudah adalah dampak positif dari
berkembangnya iptek di bidang teknologi komunikasi dan informasi.
Perkembangan
teknologi akhir-akhir ini, menjadikan dunia yang amat luas di era globalisasi
ini menjadi sempit, mengecil, dan terbatas. Perubahan ini tentu saja berdampak
positif dan negatif bagi kelangsungan hidup seorang muslim. Dampak negatif dari
perubahan dan pergeseran zaman mampu mengguncang, menggeser, dan mengikis habis
nilai-nilai moral dan iman. Bahkan, lebih jauh dari itu dapat menghancurkan
masa depan dan peradaban manusia.
Oleh
karena itu, seorang muslim harus membentengi diri dengan keimanan dan keislaman
yang kuat. Tanpa imtaq yang kokoh kehidupan seorang muslim akan
terombang-ambing dan bisa berujung pada kehancuran. Iman adalah pelita, yang
menjadi penerang dan petunjuk pada jalan yang lurus.
5. Menyelaraskan IMTAQ dan IPTEK
Para sarjana muslim
berpandangan bahwa yang disebut ilmu itu tidak hanya terbatas pada pengetahuan
(knowledge) dan ilmu (science) saja, melainkan ilmu oleh Allah dirumuskan dalam
lauhil mahfudz yang disampaikan kepada kita melalui Alquran dan As-Sunnah. Ilmu
Allah itu melingkupi ilmu manusia tentang alam semesta dan manusia sendiri.
Jadi bila diikuti jalan pikiran ini, maka dapatlah kita pahami, bahwa Alquran
itu merupakan sumber pengetahuan dan ilmu pengetahuan manusia (knowledge and
science).
Seandainya penggunaan satu
hasil teknologi telah melalaikan seseorang dari zikir dan tafakur serta
mengantarkannya kepada keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan maka ketika itu bukan
hasil teknologinya yang mesti ditolak, melainkan kita harus memperingatkan dan
mengarahkan manusia yang menggunakan teknologi itu. Jika hasil teknologi sejak
semula diduga dapat mengalihkan manusia dari jati diri dan tujuan penciptaan
sejak dini pula kehadirannya ditolak oleh islam. Karena itu menjadi suatu
persoalan besar bagi martabat manusia mengenai cara memadukan kemampuan mekanik
demi penciptaan teknologi dengan pemeliharaan nilai-nilai fitrahnya.
Kesenian Islam tidak harus
berbicara tentang islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran
berbuat kebajikan,bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. Seni yang
islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini dengan bahasa yang indah
serta sesuai dengan cetusan fitrah. Seni islam adalah ekspresi tentang
keindahan wujud dari sisi pandangan islam tentang alam, hidup, dan manusia yang
mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan.
Ada 4 hal pandangan Islam dalam
etos kerja yaitu: Niat (komitmen) sebagai dasar nilai kerja, Konsep ihsan dalam
bekerja, Bekerja sebagai bentuk keberadaan manusia, dan Orang mukmin yang kuat
lebih disukai.
Secara lebih spesifik, integrasi pendidikan iptek dan imtaq ini
diperlukan karena empat alasan:
Pertama, iptek akan memberikan berkah dan manfaat yang sangat besar bagi
kesejahteraan hidup umat manusia bila iptek disertai oleh asas iman dan taqwa
kepada Allah SWT. Sebaliknya, tanpa asas imtaq, iptek bisa disalahgunakan pada
tujuan-tujuan yang bersifat destruktif. Iptek dapat mengancam nilai-nilai
kemanusiaan. Jika demikian, iptek hanya absah secara metodologis, tetapi batil
dan miskin secara maknawi.
Kedua, pada kenyataannya, iptek
yang menjadi dasar modernisme, telah menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang
bersifat sekularistik, materialistik, dan hedonistik, yang sangat berlawanan
dengan nilai-nilai budaya dan agama yang dianut oleh bangsa kita.
Ketiga, dalam hidupnya, manusia
tidak hanya memerlukan kebutuhan jasmani, tetapi juga membutuhkan imtaq dan
nilai-nilai sorgawi (kebutuhan spiritual). Oleh karena itu, penekanan pada
salah satunya, hanya akan menyebabkan kehidupan menjadi pincang dan berat
sebelah, dan menyalahi hikmat kebijaksanaan Tuhan yang telah menciptakan
manusia dalam kesatuan jiwa raga, lahir dan bathin, dunia dan akhirat.
Keempat, imtaq menjadi landasan
dan dasar paling kuat yang akan mengantar manusia menggapai kebahagiaan hidup.
Tanpa dasar imtaq, segala atribut duniawi, seperti harta, pangkat, iptek, dan
keturunan, tidak akan mampu alias gagal mengantar manusia meraih kebahagiaan.
Kemajuan dalam semua itu, tanpa iman dan upaya mencari ridha Allah SWT, hanya
akan menghasilkan fatamorgana yang tidak menjanjikan apa-apa selain bayangan
palsu.
Hal ini
sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Qur’an
Artinya :
“Dan orang – orang yang kafir amal – amal mereka adalah laksana fatamorgana
di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang – orang yang dahaga, tetapi
bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan
didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya
perhitungan amal – amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat
perhitungan-Nya”. (Q.S An-Nur : 39)
|
Dengan demikian integrasi iptek
dan imtaq harus diupayakan dalam format yang tepat sehingga keduanya berjalan
seimbang dan dapat mengantar kita meraih kebaikan dunia dan kebaikan akhirat
seperti do’a yang setiap saat kita panjatkan kepada Allah.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di
dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S.
Al-Baqarah : 201)
Sehubungan
dengan alasan yang disebutkan di atas, maka perlu dikembangkan usaha perbaikan
yang lebih mendasar terhadap pendekatan dan metode pembelajaran misalnya
usaha-usaha yang berhubungan dengan psikologi belajar, mengintensifkan program
imtaq di sekolah-sekolah salah satunya dapat dilakukan dengan mengintegrasikan
nilai-nilai agama (imtaq) ke dalam setiap mata pelajaran. Dengan kata lain
model pembelajaran harus memadukan antara Iptek dengan imtaq.
6.
Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Alam dan Lingkungan
Ada
dua fungsi utama manusia di dunia yaitu sebagai abdun (hamba Allah) dan sebagai
khalifah Allah di bumi. Esensi dari abdun adalah ketaatan, ketundukan dan
kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah, sedangkan esensi khalifah adalah
tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan
sosial maupun lingkungan alam.
Dalam
konteks 'abdun, manusia menempati posisi sebagai ciptaan Allah. Posisi
ini memiliki konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh kepada
penciptanya. Manusia diciptakan Allah dengan dua kecenderungan yaitu
kecenderungan kepada ketakwaan dan kecenderungan kepada perbuatan fasik seperti
yang terkandung dalam Al – Qur’an :
فَأَلْهَمَهَا
فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya : "maka
Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, (jalan) kefasikan dan ketaqwaan," (QS.
Asy-Syams: 8).
Dengan
kedua kecenderungan tersebut, Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai
alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan
bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah.
Fungsi
yang kedua sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Manusia diberikan
kebebasan untuk mengeksplorasi, menggali sumber-sumber daya serta
memanfaatkannya dengan sebesar-besarnya untuk kehidupan umat manusia dengan
tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk menggali potensi
alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
memadai. Tanpa menguasai ipteks, fungsi hidup manusia sebagai khalifah akan
menjadi kurang dan kehidupan manusia akan tetap terbelakang. Manusia mendapat
amanah dari Allah untuk memelihara alam, agar terjaga kelestariannya dan
keseimbangannya. Kalau terjadi kerusakan alam dan lingkungan ini lebih banyak
disebabkan karena ulah manusia sendiri. Mereka tidak menjaga amanat Allah
sebagai khalifah.
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ
بَعْضَالَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya : ” Telah
tampak kerusakan didarat dan dilaut akibat perbuatan tangan manusia, Supaya
Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (kejalan yang benar)” (QS. Ar-Rum: 41).
7.
Keutamaan Orang Beriman dan Berilmu
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling
sempurna. Kesempurnaannya karena dibekali potensi. Potensi yang paling utama
adalah akal. Akal berfungsi untuk berpikir, dan hasil pemikirannya itu adalah
ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan
ketakwaan kepada Allah swt. Akan memberikan jaminan kemashalatan bagi kehidupan
umat manusia termasuk lingkungan.
Berkenaan dengan keutamaan orang-orang berilmu,
Al-Ghazali mengatakan, “Barang siapa berilmu, membimbing manusia dan
memanfaatkan ilmunya bagi orang lain, bagaikan matahari, selain menerangi
dirinya, juga menerangi orang lain. Dia bagaikan minyak kesturi yang harum dan
menyebarkan keharumannya kepada orang yang berpapasan dengannya.”
Dari pernyataan diatas tampak bahwa Al-Ghazali sangat
menghargai orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya dengan ikhlas. Salah satu
pengamalannya adalah mengajarkan kepada orang lain.
Keutamaan orang – orang yang berilmu
dan beriman sekaligus, diungkapkan dalam Al-qur’an :
Artinya :
“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah
pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut akan adzab akhirat dan
mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘apakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya
orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S Az-Zumar:
9)
|
|
Artinya :
“Dia Memberikan hikmah 102 kepada siapa saja yang Dia Kehendaki. Barangsiapa
diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak
ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal sehat.”
(Q.S Al-Baqarah: 269)
|
|
|
|
Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu,’Berilah kelapangan
di dalam majelis-majelis, ‘ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan Memberi
kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah,
niscaya Allah akan Mengangkan derajat orang-orang beriman diantara kamu dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang
kamu kerjakan.” (Q.S Al-Mujaadilah: 11)
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita
hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai
dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memang sangat
diperlukan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi
kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam
melakukan aktifitas manusia.
Islam
merupakan ajaran agama yang sempurna. Kesempurnaannya dapat tergambar dalam
keutuhan inti ajarannya. Iman, ilmu, dan amal merupakan satu kesatuan yang
utuh, tidak dapat dipisahkan. Iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon
yang menopang tegaknya agama Islam. Ilmu bagaikan batang dan dahan pohon itu
yang mengeluarkan cabang-cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Sedangkan
amal ibarat buah dari pohon. Ipteks yang dikembangkan diatas nilai-nilai iman
dan takwa akan menghasilkan amal sholeh bukan kerusakan Islam.
Perbuatan
baik seseorang tidak akan bernilai amal sholeh apabila perbuatan tersebut tidak
dibangun diatas nilai-nilai iman dan takwa. Sama halnya pembanguna ipteks yang
lepas dari keimanan dan ketakwaan, tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan
meghasilkan kemashalatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya apabila tidak
dikembangkan atas dasar nilai-nilai iman dan takwa.
B.
Saran
Diharapkan kepada kita semua baik yang tua maupun yang
muda agar dapat mewujudkan Imtaq dan Iptek secara seimbang di negeri yang
tercinta ini yaitu Indonesia. Yakni melalui peningkatan kualiatas sumber daya
manusia, potensi, perbaikan sistem ekonomi, serta menerapkan budaya zakat,
infak, dan sedekah. Insya Allah dengan menjalankan syariat Islam dengan baik
dan teratur kita dapat memperbaiki kehidupan bangsa ini secara perlahan.
Daftar
Pustaka
Din Syamsuddin, M, Dr, Etika Agama dalam Membangun
Masyarakat Madani, penerbit kalimat, Jakarta, 2001
http://www.alquran-indonesia.com/web/quran/listings/details/39
Tidak ada komentar:
Posting Komentar