Rabu, 06 November 2013

Pentingnya Imtaq dan Iptek di Eraglobalisasi (Pembelajaran)



TUGAS INDIVIDU
“PENTINGNYA IMTAQ DAN IPTEK”
Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam
Dosen Pengampu: Dr. Nurhadi, S.Pd., M.Pd. I

 
Disusun Oleh :
Nama                          : Priscillia Putri Aringgit
NIM                            : 13120157
Kelas                           : 1D
Program Studi            : PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI SEMARANG
2013/2014


            Dengan nama Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat membuat serta penyusunan materi Pendidikan Agama Islam tentang “Pentingnya IMTAQ dan IPTEK” ini dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga dapat selesai tepat waktu.
Didalam makalah ini, penulis ingin menyampaikan sedikit tentang bagaimana menyelaraskan perkembangan IPTEK jaman sekarang dengan IMTAQ dalam pandangan islam. Sehingga hidup kita yang serba modern ini tidak melewati batasan – batasan dari ajaran islam dalam penggunaannya.
Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :
·         Allah SWT yang telah meridhoi pembuatan makalah ini,
·         dosen Pendidikan Agama Islam,
·         orang tua yang membantu secara materiil maupun non materiil,
·         semua pihak yang telah mambantu terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam makalah ini. Kritik dan saran, penulis terima dengan lapang dada untuk meningkatkan mutu dan isi dari makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini dapat memberi bekal pengetahuan dan manfaat bagi kita semua.
Terima kasih.

                                                                                    Semarang,   September 2013

                                                                       
                                                                                                Penulis



DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ..........................................................................................................1
KATA PENGANTAR .......................................................................................................2
DAFTAR ISI ......................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................4
        A. Latar Belakang Masalah .........................................................................................4
        B. Rumusan Masalah ...................................................................................................5
        C. Tujuan Penulisan .....................................................................................................5
        D. Manfaat Penulisan ...................................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................7
        1. Pengertian IMTAQ ..................................................................................................7
        2. Pengertian IPTEK ....................................................................................................9
        3. Pandangan Islam Terhadap IMTAQ dan IPTEK ....................................................11
        4. Peranan IMTAQ dan IPTEK ..................................................................................14
        5. Penyelarasan IMTAQ dan IPTEK ..........................................................................14
        6. Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Alam dan Lingkungan .................................17
        7. Keutamaan Orang Beriman dan Berilmu ...............................................................18
BAB V PENUTUP ............................................................................................................21
        A. Kesimpulan ............................................................................................................21
        B. Saran .......................................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................22










BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan (Imtaq) Terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan amanat UUD 1945 (amandemen) Pasal 31 ayat (3) yaitu ”Tujuan Pendidikan Nasional meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa” dan secara tegas dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 bahwa peningkatan Imtaq merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, yaitu ”mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan warga warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam pengertian ini yang menjadi core (inti) tujuan pendidikan nasional adalah manusia yang beriman dan bertaqwa.
Dan tentunya jika hanya mempunyai IMTAQ tetapi tertinggal dari IPTEK maka umat  islam akan tergantung kepada bangsa lain. Islam akan tersingkirkan dari persaingan global. Sebaliknya bila hanya unggul secara IPTEK tapi kurangnya IMTAQ maka umat islam hanya akan menjadi bangsa yang arogan. Suatu peradaban yang hanya mengejar kesenangan dunia dan hidup  secara hedonistik. Hedonistik merupakan pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Paham hedonistik ini menjelaskan apa saja yang dapat memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan itu sendiri dengan berbagai cara.
Selain karena adanya problem dikotomi antara ilmu-ilmu umum (sains) dan ilmu-ilmu agama (Islam), juga disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa pengembangan IPTEK dalam sistem pendidikan kita tampaknya berjalan sendiri, tanpa dukungan asas IMTAQ yang kuat, sehingga dikhawatirkan pengembangan dan kemajuan IPTEK tidak memiliki nilai tambah dan tidak memberikan manfaat yang cukup berarti bagi kemajuan umat dan bangsa dalam arti yang seluas-luasnya.
Kekhawatiran ini, cukup beralasan, karena sejauh ini sistem pendidikan kita tidak cukup mampu menghasilkan manusia Indonesia yang IMTAQ kepada Allah SWT sebagaimana yang diharapkan. Berbagai masalah sosial dan tindak kejahatan sering terjadi dan banyak dilakukan justru oleh orang-orang yang secara akademik sangat terpelajar, seperti contohnya memakai narkoba, banyaknya tawuran antar pelajar, pornografi, pornoaksi dan lain-lain, yang kesemuanya itu berpotensi untuk menimbulkan kerawanan sosial berupa nilai moral dan terjunnya etika-etika ketimuran atau lebih khusus lagi merosotnya akhlakul karimah. Ini berarti, aspek pendidikan turut menyumbang dan memberikan saham bagi kebangkrutan bangsa yang kita rasakan sekarang. Kenyataan ini menjadi salah satu catatan mengenai raport merah pendidikan nasional kita.
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tesebut di atas, makalah ini secara khusus akan membahas permasalahan:
1.      Apa pengertian dari IMTAQ ?
2.      Apa pengertian dari IPTEK ?
3.      Bagaimana pandangan islam tentang IMTAQ dan IPTEK ?
4.      Bagaimana peranan IMTAQ dan IPTEK ?
5.      Apa saja alasan integrasi atau menyelarasan antara IMTAQ dan IPTEK ?
6.      Apa hubungannya antara ilmuwan dengan alam dan lingkungan ?
7.      Apa saja kewajibaan orang beriman dan berilmu ?

C.   Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah  tesebut di atas, makalah ini secara khusus memiliki tujuan sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui pengertian dari IMTAQ.
  2. Untuk mengetahui pengertian dari IPTEK.
  3. Untuk mengetahui pandangan islam tentang IMTAQ dan IPTEK.
  4. Untuk mengetahui peranan IMTAQ dan IPTEK.
  5. Untuk mengetahui integrasi atau antara IMTAQ dan IPTEK.
  6. Untuk mengetahui hubungan antara seorang ilmuwan dengan alam dan lingkungan.
  7. Untuk mengetahui kewajiban – kewajiban sebagai orang beriman dan sebagai orang berilmu.
D.   Manfaat Penulisan

ü  Manfaat bagi penulis
·         Mendapatkan ilmu pengetahuan baru.
·         Dapat mengkaji materi mata kuliah pendidikan agama islam.
·         Mendapat kesempatan mempertahankan pendapat, ide, wawasan dan gagasan.

ü  Manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat
·         Dapat lebih memahami dan menerapkan konsep dasar suatu pengetahuan tentang IMTAQ dan IPTEK.

























BAB II
PEMBAHASAN
1.    Pengertian IMTAQ
Kepanjangan IMTAQ adalah Iman dan Taqwa. Iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia Mengemukakan Taqwa / takwa dalam bahasa Arab berarti memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, tidak cukup diartikan dengan takut saja. Adapun arti lain dari taqwa adalah:
1. Melaksanakan segala perintah Allah.
2. Menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah (haram).
3. Ridho (menerima dan ikhlas) dengan hukum-hukum dan ketentuan Allah.
Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. "memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk allah" Adapun dari asal bahasa arab quraish taqwa lebih dekat dengan kata waqa Waqa bermakna melindungi sesuatu, memelihara dan melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Itulah maka, ketika seekor kuda melakukan langkahnya dengan sangat hati-hati, baik karena tidak adanya tapal kuda, atau karena adanya luka-luka atau adanya rasa sakit atau tanahnya yang sangat kasar, orang-orang Arab biasa mengatakan Waqal Farso Minul Hafa (Taj). Dari kata waqa ini taqwa bisa di artikan berusaha memelihara dari ketentuan allah dan melindungi diri dari dosa/larangan allah. bisa juga diartikan berhati hati dalam menjalani hidup sesuai petunjuk allah.
Prinsip dasar yang ada dalam imtaq yaitu unsur - unsur dasar yang dapat digunakan sebagai pedoman  penyusunan target sasaran hasil bentuk perilaku yang dimiliki oleh dunia pendidikan. Menurut Durkheim unsur - unsur dasar terdiri dari : disiplin, kebutuhan untuk mampu mengontrol, mengendalikan, mengekang diri terhadap keinginan - keinginan yang melampaui batas, keterikatan dengan kelompok masyarakat yang ada dalam suatu komunitas kehidupan, dan otonomi dalam makna menyangkut keputusan pribadi dengan mengetahui dan memahami sepenuhnya konsekuensi - konsekuensi dari tindakan atau perilaku yang diperbuat.
Imtaq merupakan wahana yang akan mengarahkan dunia pendidikan menuju target yang dituju, yakni menciptakan generasi beriman dan berilmu yang mampu bersaing secara baik dan beriman kepada Allah SWT. Imtaq akan menjadi peneguh karakter penerus bangsa guna menjaga nilai moral bangsa ditengah Era-globalisasi.
Agama Islam yang mengajarkan umatnya untuk berdisiplin, merupakan salah satu unsur imtaq yang tercantum didalamnya. Pengertian berdisiplin itu sendiri merupakan disiplin jasmani maupun rohani. Dengan keseimbangan disiplin antara keduanya akan mampu menumbuhkan penerus bangsa yang berdisiplin dalam setiap sektor dalam hidupnya.
Disiplin yang tinggi dan seimbang dapat menjadikan kita mampu mengontrol segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Kemampuan tersebut akan membawa kita menuju ke kepribadian yang bijaksana. Kebijaksanaan itulah yang akan membuat kita mampu mengendalikan diri dan lingkungannya, sebagai life skill yang kelak akan berguna saat kita harus terjun ke masyarakat.
Hal - hal tersebut akan menuntun kita kearah kemandirian yang bertaqwa kepada Allah SWT. Kita dapat mengekang diri terhadap keinginan - keinginan yang melampaui batas, hal inilah yang menjadikan kemajuan dunia pendidikan kita, yang merupakan negara Pancasila yang beragama dengan mayoritas beragama Islam. Selain itu, kita juga mampu berketerikatan dengan kelompok masyarakat yang ada dalam suatu komunitas kehidupan, dan otonomi dalam makna menyangkut keputusan pribadi dengan mengetahui dan memahami sepenuhnya konsekuensi - konsekuensi dari tindakan atau perilaku yang diperbuat.

2.     Pengertian IPTEK
Kepanjangan IPTEK adalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistimatisasi, dan diinterpretasi, menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya, dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis, kata ilmu berarti kejelasan, karena itu segala yang terbrntuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai bentuknya berulang 854 kali dalam Al-Qur’an. Dari sudut pandang fisafat, ilmu lebih khusus dibandingkan dengan pengetahuan.
Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan netral. Dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan. Disinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dengan teknologi. Adapun seni termasuk bagian dari budaya, berbagai hasil ungkapan akal budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan hasil ekspresi jiwa yang berkembang menjadi bagian dari budaya manusia.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri.
Prinsip iptek itu sendiri yakni : konsep dasar sains, dan konsep dasar teknologi. Konsep dasar sains mencakup unsur -unsur fundamental minimal : taraf dan keadaan ilmu pengetahuan yang sekarang dan perkembangannya, dan fungsi ilmu pengetahuan. Konsep dasar teknologi mencakup unsur - unsur dasar minimal : makna teknologi, taraf keadaan, jenis-jenis teknologi yang ada dan pemanfaatannya pada saat ini, dan aktivitas dinamis berlandaskan konsep dinamis “creativity” secara konkrit menciptakan atau memodifikasi teknologi sederhana yang dapat ditemukan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kawasan bahan ajar kedua tipe tersebut minimal mencakup pengembangan domain kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Sejarah internet Indonesia dimulai pada awal tahun 1990-an. Saat itu jaringan internet di Indonesia lebih dikenal sebagi paguyuban network, dimana semangat kerjasama, kekeluargaan & gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Mungkin berbeda dengan suasana Internet Indonesia pada perkembangannya kemudian yang terasa lebih komersial dan individual disebagian aktivitasnya, terutama yang melibatkan perdagangan Internet. Sejak 1988, ada pengguna awal Internet di Indonesia yang memanfaatkan CIX (Inggris) dan Compuserve (AS) untuk mengakses internet.
Iptek didukung oleh dua faktor dari pelaku iptek tersebut, yakni IQ dan EQ. IQ (Intelligence Quastion) adalah tingkat kecerdasan dalam menangkap sesuatu. Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu disamping faktor gizi makanan yang cukup.
IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan kita belajar dan memahami berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seseorang, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit-sakitan) dan gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seorang anak adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan bahasa si anak dengan IQ nya. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi masuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.
Kesuksesan yang ingin dicapai dibutuhkan bukan hanya “cognitive intelligence” tetapi juga “emotional intellegence”. Emotional intellegence atau disingkat EQ adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi(Cooper dan Sawaf, 1998). Ataupun kemampuan untuk untuk mengendalikan hal-hal negatif seperti kemarahan dan keragu-raguan atau rasa kurang percaya diri dan juga kemampuan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal positif seperti rasa percaya diri dan keharmonisan dengan orang-orang disekeliling.
Perlunya emotional intelligence dalam dunia kerja merupakan suatu bidang yag seringkali dianggap lebih banyak menggunakan “cara berpikir analitis” daripada melibatkan perasaan atau emosi. Menurutnya setiap orang dalam perusahaan atau organisasi dituntut untuk memiliki EQ yang tinggi. Selain itu IQ bersifat relatif tetap, sementara EQ dapat berubah sehingga bisa dibentuk dan dipelajari. Sedangkan persentase ketergantungan IQ terhadap keberhasilan seseorang (siswa) hanyalah 20%. Sedangkan 80% yang lainnya lebih didominasi oleh faktor yang lain.
3.     Pandangan Islam Terhadap IMTAQ dan IPTEK
Negara - negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena nyatanya umat muslim kita itu banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya. Beberapa diantara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara - negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis (’matre’) dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis - krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim.
Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan Iptek Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumber daya manusianya (pendidikan dan Ipteknya). Ketidakadilan global ini terlihat dari fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20 % penduduk kaya di negara-negara maju. Sementara 80% penduduk dunia di negara-negara miskin hanya memperebutkan sisa makanan pesta pora bangsa - bangsa negara maju.
Akhlak yang baik muncul dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sumber segala Kebaikan, Keindahan dan Kemuliaan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT hanya akan muncul bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah SWT dan terhadap alam semesta sebagai tajaliyat (manifestasi) sifat-sifat Maha Mulia, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Islam sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda dengan pandangan dunia barat yang melandasi pengembangan ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang ‘matre’ dan sekular, maka islam mementingkan pengembangan dan penguasaan iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan dan mengemban amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Alamin). Seperti dalam ayat berikut ini:






Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imron [3] : 190-191).
Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam yang menentang fakta - fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ’ilmu pengetahuan’ yang menentang prinsip - prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekular yang berada di balik wajah ilmu pengetahuan modern tersebut.
Islam sangat memotivasi umatnya untuk memfungsikan akal dan rasa secara seimbang. Sesungguhnya tidak ada dikotomi iman dan ilmu pengetahuan dalam Islam karena keduanya merupakan dua materi yang saling mendukung satu sama lain. Menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam Islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan muslim yang beriman akan menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah antara iman dan ilmu tidak dapat dipisahkan dalam Islam. Bahkan perintah Allah SWT yang pertama kepada umat Islam melalui rasul-Nya adalah perintah untuk menuntut ilmu. Firman-Nya dalam Al-Quran

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَخَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍاقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُالَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِعَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya : “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S Al-Alaq: 1-5)
Ada beberapa kemungkinan hubungan antara imtaq dan iptek:
(a) berseberangan atau bertentangan,
(b) bertentangan tapi dapat hidup berdampingan secara damai,
(c) tidak bertentangan satu sama lain,
(d) saling mendukung satu sama lain, agama mendasari pengembangan imtaq dan iptek mendasari penghayatan agama.
Pola hubungan pertama adalah bertolak belakang antara iptek dan imtaq. Pada pola ini, apa yang dianggap benar oleh agama bertentangan dengan iptek, begitupun sebaliknya. Pola hubungan ini seperti yang terjadi pada masa Galileo Galilei. Ketika ia berpendapat bahwa bumi mengitari matahari, gereja meyakini bahwa mataharilah yang mengitari bumi, dan hal ini menyebabkan Galileo mendapat hukuman berat karena dianggap menyesatkan. Akan tetapi Islam tidak demikian halnya. Tertulis dalam Al-Quran teori yang telah dikemukakan oleh Galileo, dan tidak bertentangan sama sekali.
Pola hubungan kedua adalah bertentangan tetapi tidak saling menghakimi dan dapat berdampingan. Pola ini merupakan pengembangan dari pola pertama. Biasa terjadi pada masyarakat yang memisahkan antara agama dan iptek. Menurut mereka, doktrin agama tidak ada sangkutannya dengan iptek. Sementara dalam Islam, dasar dari iptek adalah iman yang berkaitan langsung dengan doktrin agama. Agama sangat mendukung pengembangan iptek.
Pada pola hubungan ketiga adalah pola hubungan netral. Agama tidak menentang iptek juga tidak mendukung pengembangannya. Agama berada di wilayah dan jalurnya tersendiri, begitu pula dengan iptek.
4.     Peranan IMTAQ dan IPTEK
Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia, memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia.
Khusus dalam bidang teknologi, masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini.Contoh termudah adalah dampak positif dari berkembangnya iptek di bidang teknologi komunikasi dan informasi.
Perkembangan teknologi akhir-akhir ini, menjadikan dunia yang amat luas di era globalisasi ini menjadi sempit, mengecil, dan terbatas. Perubahan ini tentu saja berdampak positif dan negatif bagi kelangsungan hidup seorang muslim. Dampak negatif dari perubahan dan pergeseran zaman mampu mengguncang, menggeser, dan mengikis habis nilai-nilai moral dan iman. Bahkan, lebih jauh dari itu dapat menghancurkan masa depan dan peradaban manusia.
Oleh karena itu, seorang muslim harus membentengi diri dengan keimanan dan keislaman yang kuat. Tanpa imtaq yang kokoh kehidupan seorang muslim akan terombang-ambing dan bisa berujung pada kehancuran. Iman adalah pelita, yang menjadi penerang dan petunjuk pada jalan yang lurus.

5.     Menyelaraskan IMTAQ dan IPTEK
Para sarjana muslim berpandangan bahwa yang disebut ilmu itu tidak hanya terbatas pada pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science) saja, melainkan ilmu oleh Allah dirumuskan dalam lauhil mahfudz yang disampaikan kepada kita melalui Alquran dan As-Sunnah. Ilmu Allah itu melingkupi ilmu manusia tentang alam semesta dan manusia sendiri. Jadi bila diikuti jalan pikiran ini, maka dapatlah kita pahami, bahwa Alquran itu merupakan sumber pengetahuan dan ilmu pengetahuan manusia (knowledge and science).
Seandainya penggunaan satu hasil teknologi telah melalaikan seseorang dari zikir dan tafakur serta mengantarkannya kepada keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan maka ketika itu bukan hasil teknologinya yang mesti ditolak, melainkan kita harus memperingatkan dan mengarahkan manusia yang menggunakan teknologi itu. Jika hasil teknologi sejak semula diduga dapat mengalihkan manusia dari jati diri dan tujuan penciptaan sejak dini pula kehadirannya ditolak oleh islam. Karena itu menjadi suatu persoalan besar bagi martabat manusia mengenai cara memadukan kemampuan mekanik demi penciptaan teknologi dengan pemeliharaan nilai-nilai fitrahnya.
Kesenian Islam tidak harus berbicara tentang islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat kebajikan,bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. Seni yang islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Seni islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan islam tentang alam, hidup, dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan.
Ada 4 hal pandangan Islam dalam etos kerja yaitu: Niat (komitmen) sebagai dasar nilai kerja, Konsep ihsan dalam bekerja, Bekerja sebagai bentuk keberadaan manusia, dan Orang mukmin yang kuat lebih disukai.
Secara lebih spesifik, integrasi pendidikan iptek dan imtaq ini diperlukan karena empat alasan:
Pertama, iptek akan memberikan berkah dan manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan hidup umat manusia bila iptek disertai oleh asas iman dan taqwa kepada Allah SWT. Sebaliknya, tanpa asas imtaq, iptek bisa disalahgunakan pada tujuan-tujuan yang bersifat destruktif. Iptek dapat mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Jika demikian, iptek hanya absah secara metodologis, tetapi batil dan miskin secara maknawi.
Kedua, pada kenyataannya, iptek yang menjadi dasar modernisme, telah menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik, materialistik, dan hedonistik, yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang dianut oleh bangsa kita.
Ketiga, dalam hidupnya, manusia tidak hanya memerlukan kebutuhan jasmani, tetapi juga membutuhkan imtaq dan nilai-nilai sorgawi (kebutuhan spiritual). Oleh karena itu, penekanan pada salah satunya, hanya akan menyebabkan kehidupan menjadi pincang dan berat sebelah, dan menyalahi hikmat kebijaksanaan Tuhan yang telah menciptakan manusia dalam kesatuan jiwa raga, lahir dan bathin, dunia dan akhirat.
Keempat, imtaq menjadi landasan dan dasar paling kuat yang akan mengantar manusia menggapai kebahagiaan hidup. Tanpa dasar imtaq, segala atribut duniawi, seperti harta, pangkat, iptek, dan keturunan, tidak akan mampu alias gagal mengantar manusia meraih kebahagiaan. Kemajuan dalam semua itu, tanpa iman dan upaya mencari ridha Allah SWT, hanya akan menghasilkan fatamorgana yang tidak menjanjikan apa-apa selain bayangan palsu.
 Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam al-Qur’an



Artinya : “Dan orang – orang yang kafir amal – amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang – orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal – amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya”. (Q.S An-Nur : 39)
Dengan demikian integrasi iptek dan imtaq harus diupayakan dalam format yang tepat sehingga keduanya berjalan seimbang dan dapat mengantar kita meraih kebaikan dunia dan kebaikan akhirat seperti do’a yang setiap saat kita panjatkan kepada Allah.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Al-Baqarah : 201)
Sehubungan dengan alasan yang disebutkan di atas, maka perlu dikembangkan usaha perbaikan yang lebih mendasar terhadap pendekatan dan metode pembelajaran misalnya usaha-usaha yang berhubungan dengan psikologi belajar, mengintensifkan program imtaq di sekolah-sekolah salah satunya dapat dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai agama (imtaq) ke dalam setiap mata pelajaran. Dengan kata lain model pembelajaran harus memadukan antara Iptek dengan imtaq.

6.     Tanggung Jawab Ilmuwan Terhadap Alam dan Lingkungan

Ada dua fungsi utama manusia di dunia yaitu sebagai abdun (hamba Allah) dan sebagai khalifah Allah di bumi. Esensi dari abdun adalah ketaatan, ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah, sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Dalam konteks 'abdun, manusia menempati posisi sebagai ciptaan Allah. Posisi ini memiliki konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh kepada penciptanya. Manusia diciptakan Allah dengan dua kecenderungan yaitu kecenderungan kepada ketakwaan dan kecenderungan kepada perbuatan fasik seperti yang terkandung dalam Al – Qur’an :
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya : "maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, (jalan) kefasikan dan ketaqwaan," (QS. Asy-Syams: 8).
Dengan kedua kecenderungan tersebut, Allah memberikan petunjuk berupa agama sebagai alat bagi manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah.
Fungsi yang kedua sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Manusia diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi, menggali sumber-sumber daya serta memanfaatkannya dengan sebesar-besarnya untuk kehidupan umat manusia dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Tanpa menguasai ipteks, fungsi hidup manusia sebagai khalifah akan menjadi kurang dan kehidupan manusia akan tetap terbelakang. Manusia mendapat amanah dari Allah untuk memelihara alam, agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya. Kalau terjadi kerusakan alam dan lingkungan ini lebih banyak disebabkan karena ulah manusia sendiri. Mereka tidak menjaga amanat Allah sebagai khalifah.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَالَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ  يَرْجِعُونَ

Artinya : ” Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut akibat perbuatan tangan manusia, Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)” (QS. Ar-Rum: 41).

7.     Keutamaan Orang Beriman dan Berilmu

            Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaannya karena dibekali potensi. Potensi yang paling utama adalah akal. Akal berfungsi untuk berpikir, dan hasil pemikirannya itu adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Akan memberikan jaminan kemashalatan bagi kehidupan umat manusia termasuk lingkungan.
            Berkenaan dengan keutamaan orang-orang berilmu, Al-Ghazali mengatakan, “Barang siapa berilmu, membimbing manusia dan memanfaatkan ilmunya bagi orang lain, bagaikan matahari, selain menerangi dirinya, juga menerangi orang lain. Dia bagaikan minyak kesturi yang harum dan menyebarkan keharumannya kepada orang yang berpapasan dengannya.”
            Dari pernyataan diatas tampak bahwa Al-Ghazali sangat menghargai orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya dengan ikhlas. Salah satu pengamalannya adalah mengajarkan kepada orang lain.
Keutamaan orang – orang yang berilmu dan beriman sekaligus, diungkapkan dalam Al-qur’an :



Artinya : “(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut akan adzab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S Az-Zumar: 9)


Artinya : “Dia Memberikan hikmah 102 kepada siapa saja yang Dia Kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal sehat.” (Q.S Al-Baqarah: 269)

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu,’Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, ‘ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan Memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan Mengangkan derajat orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al-Mujaadilah: 11)           






















BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
                Kemajuan  teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memang sangat diperlukan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia.
            Islam merupakan ajaran agama yang sempurna. Kesempurnaannya dapat tergambar dalam keutuhan inti ajarannya. Iman, ilmu, dan amal merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipisahkan. Iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya agama Islam. Ilmu bagaikan batang dan dahan pohon itu yang mengeluarkan cabang-cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon. Ipteks yang dikembangkan diatas nilai-nilai iman dan takwa akan menghasilkan amal sholeh bukan kerusakan Islam.
Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal sholeh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun diatas nilai-nilai iman dan takwa. Sama halnya pembanguna ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan, tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan meghasilkan kemashalatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya apabila tidak dikembangkan atas dasar nilai-nilai iman dan takwa.
B.   Saran
Diharapkan kepada kita semua baik yang tua maupun yang muda agar dapat mewujudkan Imtaq dan Iptek secara seimbang di negeri yang tercinta ini yaitu Indonesia. Yakni melalui peningkatan kualiatas sumber daya manusia, potensi, perbaikan sistem ekonomi, serta menerapkan budaya zakat, infak, dan sedekah. Insya Allah dengan menjalankan syariat Islam dengan baik dan teratur kita dapat memperbaiki kehidupan bangsa ini secara perlahan.



Daftar Pustaka
Din Syamsuddin, M, Dr, Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani, penerbit kalimat, Jakarta, 2001
http://www.alquran-indonesia.com/web/quran/listings/details/39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar